Media Mabes Bharindo.
Aktivitas angkutan tanah dari lokasi tambang galian di wilayah Kecamatan Cisaat dan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, kembali menuai sorotan. Puluhan hingga ratusan truk pengangkut material diduga bebas melintas tanpa memperhatikan keselamatan dan kebersihan jalan umum, sehingga memicu keresahan masyarakat.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi jalan raya dipenuhi ceceran tanah merah yang terbawa roda kendaraan proyek. Saat cuaca panas, debu tebal beterbangan dan mengganggu jarak pandang pengendara. Sementara saat hujan turun, jalan berubah menjadi licin dan rawan kecelakaan.
Warga setempat menyebut aktivitas ini berkaitan dengan proyek pembangunan Jalan Tol Bocimi (Bogor-Ciawi-Sukabumi), yang merupakan salah satu proyek strategis nasional. Namun ironisnya, pelaksanaan di lapangan dinilai jauh dari standar keselamatan kerja (K3) dan pengelolaan dampak lingkungan.
“Iya, mobil-mobil itu bawa tanah ke jalan tol Bocimi. Untuk yang baru, sebagian juga dibawa ke pabrik SCG. Kalau soal izin saya kurang tahu, saya hanya diminta bantu parkir kendaraan saja,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Ia juga mengakui bahwa kondisi jalan yang kotor akibat tanah yang tercecer sebenarnya sudah menjadi perhatian warga. Bahkan, pihaknya sempat meminta agar dilakukan pembersihan rutin oleh pihak proyek.
“Memang tanahnya banyak jatuh ke jalan. Saya sudah minta agar disiram atau dibersihkan, tapi katanya tidak ada. Beberapa hari lalu juga ada dari Kecamatan Cisaat yang datang menegur, tapi sampai sekarang belum ada tindakan nyata dari pihak proyek,” tambahnya.
Kondisi ini memicu kekecewaan masyarakat pengguna jalan. Mereka menilai proyek besar yang seharusnya membawa manfaat justru menimbulkan dampak negatif karena lemahnya pengawasan.
Sejumlah pengendara mengeluhkan risiko kecelakaan yang semakin tinggi, terutama bagi pengendara roda dua. Selain itu, debu yang beterbangan juga dinilai membahayakan kesehatan warga sekitar.
“Kalau siang debunya luar biasa, kalau hujan jadi licin. Ini sangat berbahaya, apalagi untuk motor,” ujar salah satu pengendara.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait mengenai langkah penanganan atas persoalan tersebut. Minimnya tindakan tegas menimbulkan dugaan adanya kelalaian dalam penerapan standar keselamatan dan perlindungan lingkungan dalam proyek tersebut.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, dinas terkait, serta pihak kontraktor segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh. Penegakan aturan K3, pengawasan lalu lintas proyek, serta kewajiban menjaga kebersihan jalan dinilai harus menjadi prioritas demi keselamatan bersama.
Jika dibiarkan berlarut, bukan tidak mungkin aktivitas angkutan tanah ini akan terus menjadi ancaman nyata bagi pengguna jalan dan memperburuk citra proyek strategis nasional di mata publik
( Tim)








Komentar