Warga Warnajati Geram! Rekrutmen Pegawai MBG Diduga Tak Transparan, Titipan hingga Nepotisme Jadi Sorotan

Daerah20 Dilihat

Media Mabes Bharindo com

Sukabumi – Mabes Bharindo Gelombang ketidakpuasan warga Desa Warnajati, Kecamatan Cibadak, mencuat ke permukaan. Rekrutmen pegawai MBG (Mitra BGN) yang digadang-gadang sebagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, justru menuai kritik tajam.

Warga menilai proses seleksi tidak transparan, sarat dugaan “titipan”, hingga praktik yang mengarah pada nepotisme.

Dalam forum warga, sejumlah perwakilan Nandang menyampaikan kekecewaan mereka. Salah satu warga mengungkapkan bahwa sempat beredar informasi adanya peluang “titip orang” agar bisa lolos seleksi. Hal ini memicu tanda tanya besar terkait mekanisme rekrutmen yang seharusnya mengedepankan profesionalitas dan keadilan.

“Kalau memang ada rekrutmen, harus jelas kriterianya. Apa yang dinilai? Apakah kemampuan memasak? Kejujuran? Atau apa? Jangan sampai warga hanya dijadikan formalitas saja,” ungkap salah satu warga dengan nada kecewa.

Tak hanya itu, warga juga mengaku tidak pernah bertemu langsung dengan pihak MBG saat proses seleksi berlangsung. Mereka menilai proses tersebut tidak “clear” dan cenderung tertutup. Bahkan, hasil pengumuman disebut-sebut terkesan “mentah” dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka.

Kecurigaan semakin menguat ketika ditemukan sejumlah pegawai yang lolos justru berasal dari luar wilayah, seperti dari Peundeuy hingga Kalabang, sementara masih banyak warga lokal yang memenuhi kriteria namun tidak diterima.

“Harusnya warga sekitar diprioritaskan. Ini program katanya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat, tapi kenyataannya justru orang luar yang masuk,” tegas warga lainnya.

Warga juga mempertanyakan proses wawancara yang dilakukan. Mereka meragukan apakah benar ada uji kemampuan, seperti memasak atau pekerjaan dapur lainnya, atau hanya sekadar formalitas belaka.

Lebih jauh, warga menilai MBG seolah berjalan seperti “milik pribadi”, bukan bagian dari program nasional yang seharusnya diawasi dan dijalankan secara profesional. Bahkan, mereka menuding adanya tindakan sewenang-wenang dalam proses rekrutmen.

Atas kondisi ini, warga Desa Warnajati menyatakan sikap tegas. Mereka meminta agar seluruh proses rekrutmen dihentikan sementara hingga ada klarifikasi terbuka dan kesepakatan bersama masyarakat.

“Kami minta jangan ada kelulusan dulu sebelum semuanya jelas. Selesaikan dulu dengan warga. Ini menyangkut hak kami sebagai masyarakat setempat,” tegas perwakilan warga.

Warga juga menyoroti peran pihak SPPG dan yayasan terkait yang dinilai kurang transparan, padahal merekalah yang mengundang warga dalam kegiatan tersebut

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak MBG maupun instansi terkait. Namun satu hal yang pasti, suara warga Warnajati kini semakin lantang: mereka menuntut keadilan, transparansi, dan prioritas bagi masyarakat lokal sesuai tujuan awal program.

 

Reporter : Taty mbs

Editor FR Mbs

Komentar