PIHAK SPPG ANUGRAH RATU ALAM LOJI AKHIR NYA ANGKAT BICARA.

Media Mabes Bharindo.

Pihak Satuan Pelayanan Persiapan Gizi (SPPG) Anugerah ratu Alam Loji akhirnya angkat bicara menanggapi insiden dugaan keracunan massal yang menimpa pelajar dan tenaga pendidik di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Hingga Kamis (29/1/2026), jumlah korban tercatat mencapai 22 orang, dengan enam di antaranya harus dirujuk ke RSUD Palabuhanratu untuk penanganan lanjutan.

Insiden tersebut terjadi usai para korban menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan pada Rabu (28/1/2026). Sejumlah penerima manfaat dilaporkan mengalami gejala gangguan pencernaan hingga sesak napas.

Asisten Lapangan SPPG Loji, Yanyan Sugiyanto, menyatakan pihaknya bertanggung jawab atas peristiwa tersebut dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat.

“Kami tidak menghindar. Kejadian ini menjadi evaluasi serius bagi kami. Ada kekeliruan dalam proses distribusi dan kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penerima manfaat yang terdampak,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).

Yanyan mengungkapkan, laporan awal dari pihak sekolah diterima pada pagi hari sebelum jam makan. Setelah itu, tim SPPG langsung melakukan langkah pencegahan.

“Begitu mendapat informasi adanya makanan yang tidak layak, saya langsung menginstruksikan agar menu tidak dikonsumsi dan kami berkomitmen mengganti distribusi di hari berikutnya,” jelasnya.

Ia juga menyebut sempat menghentikan distribusi di titik terakhir. “Kami menyusul kendaraan pengantar ke wilayah Babakan Astana dan menarik kembali makanan yang belum dikonsumsi. Itu upaya darurat agar tidak muncul korban tambahan,” tambahnya.

Terkait pengawasan kualitas makanan, Yanyan menegaskan dapur SPPG Loji didukung tenaga profesional. Namun ia mengakui faktor kelalaian tetap bisa terjadi.

“Secara sistem kami punya ahli gizi bersertifikat dan petugas yang sudah mendapatkan pelatihan MBG. Tapi kejadian ini menjadi tamparan keras bahwa pengawasan harus diperketat lagi,” katanya.

Mengenai bahan makanan yang diduga menjadi pemicu, Yanyan menjelaskan bahwa tahu goreng yang disajikan berasal dari pihak pemasok luar.

“Produk tersebut kami terima dalam kondisi matang. Di dapur tidak dilakukan pengolahan ulang, hanya pengemasan sebelum didistribusikan,” tuturnya.

 

 

(Herlan)

Komentar