Forum Lsm Ponorogo Soroti Proyek Sanimas Rp 400 Juta Desa Tegal Lombo Di Duga Tidak Sesuai Spesifikasi “Dorong APH Ambil Tindakan”

Uncategorized882 Dilihat

Mabes Bharindo.com.Ponorogo.

PONOROGO – Proyek pembangunan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) di Desa Tegalombo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, menjadi sorotan Forum Aktivis LSM Ponorogo.
Proyek yang disebut memiliki nilai anggaran sekitar Rp400 juta untuk 24 titik Sanimas itu dipertanyakan kualitas pelaksanaannya. Forum LSM mengaku menemukan sejumlah kondisi di lapangan yang menurut mereka perlu diklarifikasi dan diuji secara teknis.

Forum tersebut terdiri dari Hari Bara, Ketua DPC GRIB Jaya Ponorogo, Aang Pariyanto, Ketua LSM Garda Wengker, serta Halil, Ketua LSM PRC.

Hari Bara, yang menjadi juru bicara forum, mengatakan sorotan bermula dari informasi dan keluhan masyarakat. Pihaknya kemudian melakukan pengecekan langsung ke sejumlah lokasi pembangunan.

“Dari informasi warga sekaligus kami mengecek lokasi, untuk spek pembangunan ini jauh dari apa yang diharapkan,” kata Hari Bara.
Besi hingga Bekisting Dipertanyakan
Menurut Hari, beberapa bagian pekerjaan yang menjadi perhatian antara lain dugaan penggunaan besi beton ukuran 6 yang disebutnya sebagai besi “banci”, penggunaan papan bekisting bekas, serta jarak begel yang berdasarkan pengamatannya lebih dari 15 sentimeter,kualitas semen menggunakan merek “semenku” dan pasir yang digunakan pasir lokal/cucian.

(BEKISTING JUGA SALAH SATU YANG DIPERSOALKAN)

Hari menyebut pihaknya memperoleh informasi bahwa papan bekisting yang digunakan bukan material baru, melainkan bekas pekerjaan proyek lain.

“Bekisting juga kami lihat bukan pembuatan baru, tetapi bekas proyek lain. Kalau memang demikian, tentu harus dilihat apakah penggunaannya sesuai dengan spesifikasi pekerjaan,” ujarnya.
Namun, dugaan tersebut menurutnya tidak cukup hanya berdasarkan pengamatan visual. Forum LSM mendorong agar persoalan itu diperiksa melalui dokumen pekerjaan maupun pemeriksaan teknis di lapangan.

(RP 400 JUTA DARI 24 TITIK)

Besarnya nilai anggaran membuat Forum LSM menilai proyek tersebut layak mendapatkan perhatian publik.

Dengan anggaran sekitar Rp400 juta untuk 24 titik, secara hitungan rata-rata nilainya sekitar Rp16,6 juta per titik. Namun angka tersebut tidak serta-merta menjadi nilai konstruksi masing-masing titik karena kebutuhan dan komponen pekerjaan setiap lokasi dapat berbeda.

Hari Bara menegaskan, Sanimas merupakan program yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya sanitasi dan pengelolaan air limbah domestik.

“Program Sanimas ini untuk masyarakat. Jangan sampai pembangunan fisiknya ada, tetapi kualitasnya tidak maksimal dan akhirnya cepat rusak,” katanya.

Menurut dia, kualitas material menjadi bagian penting karena bangunan tersebut nantinya digunakan dalam jangka panjang oleh masyarakat penerima manfaat.

“Kalau dibangun seperti itu, kami khawatir nantinya cepat rusak atau justru menimbulkan persoalan di kemudian hari,” imbuhnya.

Forum Minta RAB dan Spesifikasi Dibuka
Forum Aktivis LSM Ponorogo menilai dugaan ketidaksesuaian material semestinya dapat diuji secara objektif.

Mereka meminta pihak terkait mencocokkan kondisi fisik dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB), gambar kerja, spesifikasi teknis dan dokumen pelaksanaan.

Bila diperlukan, pemeriksaan juga dapat dilakukan terhadap material yang digunakan untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar pekerjaan.

“Kalau memang sesuai spek, silakan dibuktikan. Kami tidak ingin hanya membuat tuduhan. Yang kami minta adalah pemeriksaan secara teknis dan transparan,” tegas Hari.

(PAPAN NAMA PROYEK JUGA PERLU DIPERTANYAKAN)

Selain kualitas pekerjaan, Forum LSM juga mempertanyakan tidak adanya papan informasi proyek yang mereka lihat di area pembangunan.

Padahal, bagi mereka, papan informasi merupakan bagian penting dari keterbukaan informasi publik agar masyarakat dapat mengetahui sumber anggaran, nilai pekerjaan, pelaksana serta waktu pelaksanaan.

“Ini uang untuk kepentingan masyarakat. Masyarakat berhak mengetahui proyek ini anggarannya dari mana, nilainya berapa, siapa pelaksananya dan kapan pengerjaannya,” ujar Hari.

Sorotan tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan lebih luas: sejauh mana masyarakat penerima manfaat dapat mengawasi pembangunan yang dilakukan di lingkungannya sendiri?

(LURAH ARAHKAN LANGSUNG KEPOKMAS)

Sementara itu, Kepala Desa Tegalombo Gatot Sudibyo, S.H., saat hendak ditemui awak media di kantor desa tidak berada di tempat.

Ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp, Gatot mengarahkan awak media untuk menghubungi Iwan, selaku Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Desa Tegalombo.

Upaya konfirmasi kepada Ketua Pokmas telah dilakukan. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada jawaban terkait dugaan penggunaan material yang disebut Forum LSM tidak sesuai spesifikasi, termasuk mengenai besi, bekisting, jarak begel,kualitas merek semen,pasir lokal/cucian dan papan informasi proyek.

Karena itu, seluruh dugaan yang disampaikan Forum Aktivis LSM tersebut masih merupakan klaim dan temuan awal dari pihak forum yang membutuhkan verifikasi teknis serta penjelasan dari pelaksana dan pihak terkait.

Pada akhirnya, proyek Sanimas bukan hanya tentang berdirinya bangunan sanitasi di 24 titik. Ada uang publik yang digunakan dan ada masyarakat yang menunggu manfaatnya.

Jika benar sesuai spesifikasi, pemeriksaan teknis dapat menjadi jawaban. Jika ditemukan ketidaksesuaian, tentu harus ada langkah perbaikan sesuai ketentuan.

Sebab, yang dipertaruhkan bukan sekadar kualitas sebuah bangunan, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan anggaran publik.(Red)

Komentar

News Feed