oleh

*LSM BPPK-RI Empat Lawang Liza Iskandar Akan Laporkan Proyek Jembatan Ambruk Ke APH Di Jakarta*

Mabes Bharindo Sumsel.mabesbharindo.com.
Terkait dengan pemberitaan di beberapa media tentang ambruknya rangka jembatan ponton penghubung Kecamatan Uku Musi menuju Kecamatan Pesemah Air Keruh (Paiker) Kabupaten Empat Lawang Provinsi Sumatera Selatan, Selasa, 23 Maret 2021 lalu.

Kepala Dinas PU-PR Kabupaten Empat Lawang Ismail saat dikonfirmasi VIA pesan singkat Whatsapp kalau mengenai jembatan ponton penghubung antara Kecamatan Paiker dengan kecamatan Ulu Musi itu “masih dalam tahap pengerjaan oleh pihak ke 3, dan kami sdh koordinasi dg ka balai besar pelaksanaan jalan nasional V di palembang, jembatan tsb masih tanggung jawab pihak rekanan dan akan diperbaiki sesuai kontrak semula, karena air banjir terlalu besar sehingga menghanyutkan perancah utk erection rangka atas jembatan tersebut”, demikian ungkap Mail panggilan akrabnya,
Namun untuk itu silahkan “Konfirmasi saja Ke kabid BM bae perusahaannyo PT sukses sarrrie kintano”, isi pesan singkat Kadis PU-PR, Rabu, 24/03/2021, kemaren.

Kabid BM PU-PR empat Lawang Eko Purwanto, ketika di konfirmasi saat berada di lokasi jembatan roboh yang didampingi oleh stafnya Hendro dan Piko, serta juga staf BPBD Kabupaten Empat Lawang, menjawab “itu bukan kewenangan saya”, pada hal sebelumnya isi WA dari Kepala Dinas PU-PR untuk dia sudah di tunjukkan kepada Kabid BM tersebut, langsung meninggalkan lokasi berta rombongan.

*LSM BPPK-RI EMPAT LAWANG LIZA ISKANDAR AKAN LAPORKAN*
Kamis, 25/03/2021 sekira pukul 21:00 wib di kediaman Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat BPPK-RI Kabupaten Empat Lawang Liza Iskandar Talang Gunung Tebing Tinggi Empat Lawang, mempertanyakan tentang proyek pekerjaan jembatan yang roboh dengan alasan faktor bencana alam, sementara setelah saya turun kelapangan dan mempelajari giograpis di Ulu Musi tidak bisa disalahkan sepenuhnya pada bencana alam karena hujan sehingga air menjadi banjir atau meluap, coba kita bandingkan mana yang lebih besar ketika banjir tahun 2019 lalu dengan banjir kemaren, jelas banjir kemaren jauh lebih kecil, artinya perencanaannya kurang tepat dan dilaksanakan terkesan asal-asalan, sehingga mengakibatkan robohnya jembatan yang sedang dibangun ini.

Lebih lanjut Liz panggilan akrabnya mengatakan, sepertinya dalam pelaksanaan pembangunan jembatan tersebut pihak PUPR Kabupaten Empat Lawang terkesan tutup mata terhadap proyek tersebut, karena apa, karena proyek ini bukan milik PUPR Empat Lawang atau proyek dari provinsi, kenapa demikian? karena proyek tersebut berada di wilayah kabupaten Empat Lawang, selain itu PPTK Perencananya pasti dari PUPR Empat Lawang, setelah perencanaan dibuat lalu diserahkan ke Provinsi barulah orang Palembang malaksanakan prosedur pelelangan, dalam hal ini menurut Ketua BPPK-RI diduga pekerjaan tidak sesuai dengan RAB yang dibuat oleh Konsultan Perencana, sehingga terjadinya bencana ini, dan BPPK-RI akan menindak lanjuti temuan ini sampai ke aparat penegak hukum (APH).

Masih menurut Liz, BPPK-RI berharap kepada pihak Aparat Penegak Hukum di Jakarta setelah sampainya surat kami nanti untuk segerah memanggil dan memeriksa mulai dari PPTK PERENCANA, PPTK PENGAWASAN, KONSULTAN PERENCANA, KONSULTAN PENGAWASAN dan PIHAK REKANAN serta TIM SEMBILAN serta seluruh yang terkait dalam pekerjaan proyek jembatan tersebut.

Liza Iskandar menambahkan Media dan Lembaga adalah sebagai Sosial Kontrol dan juga masyarakat berhak untuk mengetahui ini tertuang dalam Undang-undang NO: 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Iformasi Publik. Selain itu ada empat pilar diIndonesia, yakni Eksekutif, Legeslatif, Yudikatif dan yang ke empat adalah Jurnalistik sebagai alat Sosial Kontrol, bukan sebagai musuh atau sebagai penghambat program pembangunan pemerintah, disini saya menghimbau dan mengajak serta berpesan kepada semua lapisan masyarakat, rekan-rekan Lembaga dan Insan Pers yang ada di Empat Lawang ini mari kita awasi dan kawal kinerja Pemerintahan dalam melaksanakan pembangunan di Kabupaten Empat Lawang baik itu DAK, APBD MAUPUN APBN, demi untuk Empat Lawang yang kita cintai bersama, kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi, pungkas Lis dengan nada serius. (DN)

Komentar